Monday, December 6, 2021

Artikel: Pengertian, Unsur Kebahasaan, Struktur serta Pola Penulisan

Pengertian Artikel

Artikel merupakan jenis tulisan yang berisi penbisa, gagasan, pikiran, hingga kritik terhadap suatu persoalan yang tengah berkembang di masyarakat serta biasanya ditulis menggunakan bahasa ilmiah populer (Tim Kemdikbud, 2017, hlm. 131). Artinya, apa itu artikel merupakan tulisan yang memuat penbisa mengenai fakta, fenomena, data, hingga kejadian tertentu yang ditulis menggunakan bahasa ilmiah namun tetap ringkas serta ringan untuk dibaca di surat kabar, majalah, hingga media online.

Dalam perkembangannya, terbisa dua jenis artikel yang paling populer. Yaitu artikel fakta, serta artikel opini, atau campuran dari keduanya. Pada dasarnya, artikel merupakan genre teks eksposisi, serta seperti eksposisi yang lainnya, suatu argumen itu terbagi menjadi dua jenis, yaitu: fakta, serta opini.

Untuk itu, sangatlah penting untuk menyadari perbedaan antara keduanya. Karena terkasertag sangatlah mudah bagi seseorang terjerumus oleh opini yang sebetulnya tidak terbukti. Di bawah ini merupakan penjelasan mengenai perbedaan fakta serta opini.

Perbedaan Fakta serta Opini

Fakta merupakan kenyataan atau peristiwa yang benar-benar ada atau terjadi serta telah dibuktikan oleh data yang konkret. Fakta bisa dipakai untuk menjawab pertanyaan apa, siapa, kapan, di mana, atau berapa. Fakta bersifat objektif serta tidak bisa diada-ada, artinya hal ini adalah kenyataan yang terjadi serta bukan hanya sekedar penbisa.

Fakta memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

  1. Adalah suatu kebenaran umum;
  2. Menyertakan bukti berupa data-data yang akurat;
  3. Mengungkapkan peristiwa yang benar-benar terjadi.

Contoh fakta:

  1. Cirebon merupakan salah satu kota yang berada di Jawa Barat.
  2. Kepala BPS Suhariyanto mengungkapkan secara kuartalan atau dibandingkan dengan kuartal IV/2019, pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat minus 2,41 persen.
  3. Indeks kebahagiaan Kota Bandung pada tahun 2017 adalah sebesar 73,42 yang berarti sangat bahagia serta naik sebanyak 0,15 dari tahun sebelumnya berdasarkan survei yang dilaksanakan oleh BPS.

Sementara itu, opini adalah penbisa, pendirian, atau pemikiran seseorang terhadap suatu hal. Biasanya, opini dipakai untuk menjawab bagaimana serta mengapa. Tentunya opini bersifat sangat subjektif serta bukan berdasarkan fakta. Namun beberapa opini juga biasa diperkuat oleh data atau fakta kalau memang tersedia bukti konkretnya.

Contoh opini:

  1. Pendidikan Indonesia rasanya belum mengalami pertumbuhan juga.
  2. Seharusnya Bandung bisa menjadi salah satu tujuan wisata yang menarik untuk dikunjungi oleh wisatawan asing.
  3. Majalengka tampaknya akan mengalami pertumbuhan yang sangat cepat dengan didirikannya bandar udara internasional Kertajati.

Lalu seperti apa bentuk atau struktur dari teks yang berbentuk artikel? Di bawah ini merupakan penjabarannya.

Struktur Artikel

Artikel kebanyakan disampaikan melalui opini yang diperkuat oleh fakta. Oleh karena itu, strukturnya akan banyak memuat unsur-unsur yang terbisa pada teks eksposisi. Struktur artikel setidaknya akan memuat beberapa bagian di bawah ini.

  1. Tesis

Adalah penbisa serta opini umum yang meliputi pengenalan isu, masalah, ataupun pansertagan penulis secara umum mengenai topik yang akan dibahas dalam artikel.

  1. Rangkaian argument

Berupa sejumlah penbisa, opini, atau argumen penulis sebagai penjelasan atas tesis yang telah dikemukakan. Bagian ini juga biasanya diperkuat oleh fakta serta data yang dipakai untuk memvalidasi argumen.

  1. Penegasan ulang

Adalah perumusan kembali secara ringkas mengenai tesis serta fakta yang telah disampaikan. Bagian ini juga bisa memuat rekomendasi berupa solusi konkret dari penulis.

Unsur Kebahasaan Artikel

Unsur kebahasaan yang terbisa dalam artikel serta karya ilmiah memiliki persamaan karena penyajian isinya berdasarkan fakta yang dibeberkan melalui opini, bukan fiksi atau imajinasi. Berikut merupakan unsur kebahasaan yang harus dicermati (Tim Kemdikbud, 2017, hlm. 156).

Adverbia

Adalah satuan bahasa yang bisa mengekspresikan sikap eksposisi. Agar artikel bisa lebih meyakinkan pembaca, diperlukan ekspresi kepastian, yang bisa dipertegas dengan penggunaan kata keterangan atau adverbia frekuentatif, seperti:  selalu, sering, kasertag-kasertag, biasanya, sebagian besar, serta jarang.

Konjungsi

Konjungsi atau kata sambung merupakan ungkapan atau kata yang menghubungkan dua satuan bahasa yang sederajat, yaitu kata dengan kata, frasa dengan frasa, klausa dengan klausa, serta kalimat dengan kalimat. Jenis konjungsi yang dipakai haruslah tepat guna agar memperkuat kebahasaan yang dipakai dalam artikel. Berikut adalah beberapa jenis konjungsi yang sering dijumpai pada artikel.

  1. konjungsi untuk menata argumentasi, meliputi: pertama, kedua, berikutnya;
  2. konjungsi yang dipakai untuk memperkuat argumentasi, selain itu, misalnya, seperti, padahal, justru, sebagai contoh;
  3. konjungsi yang menyatakan hubungan sebab-akibat, seperti: sejak, sebelumnya, serta sebagainya;
  4. konjungsi yang menyatakan harapan, contohnya: supaya, serta sebagainya.

Kosakata

Kosakata yang dimaksud merupakan perbendaharaan kata. Agar teks artikel mampu menarik perhatian pembaca, diperlukan kosakata yang luas serta menarik. Biasanya konten teks yang menarik akan mencakup serta mempertimbangkan hal-hal berikut ini.

  1. Aktual, topik yang dibahas sesertag menjadi pembicaraan orang banyak atau baru saja terjadi.
  2. Fenomenal, yaitu megah, besar, luar biasa, hebat, serta bisa dirasakan pancaindra.
  3. Editorial, artikel dalam surat kabar yang mengungkapkan pendirian editor atau pemimpin surat kabar.
  4. Imajinasi, memberikan serta memancing daya pikir untuk membayangkan suatu peristiwa terhadap pembacanya.
  5. Modalitas, cara pembicara atau penulis menyatakan sikap terhadap suatu imajinasi dalam komunikasi antarpribadi dibuat berkarakter atau menarik. (barangkali, harus, serta sebagainya).
  6. Nukilan, kutipan atau tulisan yang dicantumkan pada suatu benda.
  7. Tajuk rencana, karangan pokok dalam suatu kumpulan berita serta konten surat kabar.
  8. Teks opini, yang berarti teks yang menjadi wadah untuk mengemukakan berbagai penbisa atau pikiran.
  9. Keterangan aposisi, keterangan yang memberi penjelasan kata benda. Jika ditulis, keterangan ini diapit tanda koma atau tanda pisah atau tanda kurung.

Kaidah Kebahasaan Artikel

Selain unsur kebahasaan yang harus diperhatikan, teks artikel juga memiliki kaidah kebahasaan penanda yang menjadikan suatu teks menjadi artikel. Ciri-ciri kebahasaan tersebut meliputi beberapa poin di bawah ini.

  1. Menggunakan kata-kata denotatif, yaitu kata yang bermakna sebenarnya. Kata itu tidak bermakna hal lain ataupun dilebihkan maknanya seperti kata konotatif. Namun sebagian artikel juga akan menggunakan kata konotatif untuk memperindah serta mempopulerkan tulisannya.
  2. Menggunakan kata peristilahan atau kata teknis yang berkenaan dengan topik pembahasan. Contohnya, jika topik yang dibawakan mengenai kesehatan maka istilah teknis yang dipakai adalah: virus, bakteri, pola makan, suhu tubuh, dsb.
  3. Banyak menggunakan konjungsi yang menunjukkan hubungan argumentasi atau kausalitas. contohnya: sebab, karena, jika, dengan demikian, oleh karena itu, akibatnya.
  4. Bisa pula menggunakan konjungsi yang menyatakan hubungan keterangan waktu atau kronologis, seperti: sebelum itu, kemudian, pada akhirnya.
  5. Dalam artikel pola perbandingan, banyak memuat konjungsi yang menyatakan perbandingan/pertentangan seperti: sebaliknya, berbeda halnya, namun.
  6. Menggunakan kata-kata kerja mental (mental verba), seperti: diharapkan, memperkirakan, memprihatinkan, menduga, menyimpulkan, berpenbisa, berasumsi, serta mengagumkan.
  7. Banyak menggunakan kata-kata perujukan: menurut penbisa, berdasarkan data, merujuk pada penbisa.
  8. Menggunakan kata-kata persuasif, seperti: sebaiknya, hendaklah, sebaiknya, harus, perlu. Selain itu.

Pola Penyajian Artikel

Menurut tim Kemdikbud (2017, hlm. 181) terbisa beberapa pola penyajian artikel yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan penulisan artikel, yaitu:

  1. Pola pemecahan topik

Artikel memecah topik yang masih berada dalam lingkup pembicaraan yang ditemakan menjadi beberapa subbagian atau subtopik yang lebih mengerucut agar bisa dianalisis dengan lebih fokus terhadap masing-masing bagian yang telah dipecah.

  1. Pola masalah serta pemecahannya

Pola ini lebih dahulu mengemukakan masalah yang di bahas, baik itu masalah pokok maupun beberapa masalah turunannya yang masih berada dalam lingkup pokok bahasan utama. Selanjutnya, penulis akan menganalisis sesuai dengan penbisa ahli atau pakar terkait dengan bisertag ilmu yang berkaitan dengan topik yang dibahas.

  1. Pola kronologi

Pola kronologi akan menyajikan artikel sesuai dengan urutan waktu, kejadian, kebersinambungan, keberlanjutan bagaimana sesuatu itu terjadi yang dipaparkan secara runut serta runtut.

  1. Pola penbisa serta alasan pemikiran

Pola ini baru dipakai jika penulis artikel ingin menyampaikan penbisa, gagasannya sendiri. Argumen langsung disampaikan dengan jelas serta bila perlu bisa ditambahkan perbandingan, atau bukti yang menguatkannya.

  1. Pola pembandingan

Pembanding atau gaya penulisan komparatif membandingkan dua aspek atau lebih dari satu topik untuk menunjukkan persamaan atau perbedaannya, sehingga bisa menarik kesimpulan untuk suatu solusi atau gambaran yang lebih baik dari hal yang dibahas.


 

0 comments:

Post a Comment